Lain Lain

Mengenal Masyarakat Tangguh Api yang Diinisiasi APRIL

APRIL

Image Source: APRIL

Sungguh menyesakkan, bencana kebakaran hutan dan lahan seperti menjadi rutinitas di Indonesia. Setiap tahun, kejadian tersebut terus terulang. Padahal, dampaknya sungguh menyengsarakan masyarakat. Inilah yang hendak diubah oleh Grup APRIL dengan mengajari supaya menjadi Masyarakat Tangguh Api.

Harus diakui, kebakaran hutan dan lahan merupakan problem yang sangat merugikan. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pernah menyatakan bahwa kerugian akibat bencana tersebut pada 2015 mencapai Rp220 triliun. Jumlah itu muncul akibat banyak kegiatan perekonomian yang terganggu akibat kebakaran.

Namun, kerugian lain dari kebakaran lahan dan hutan masih ada. Itu malah menghantam masyarakat secara langsung. Contoh nyata adalah kesehatan masyarakat sangat terganggu akibat dampak api yang membakar hutan dan lahan.

Seperti yang dipaparkan oleh Tirto.id, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa kabut asap yang merupakan dampak kebakaran hutan memiliki efek mematikan.

Pada 2015 lalu, ia menyatakan problem tersebut menewaskan 19 orang di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Masing-masing lima korban berasal Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatera Selatan. Sementara itu, tiga orang lainnya merupakan warga yang berdomisili di Kalimantan Selatan dan satu orang dari Provinsi Jambi.

Secara khusus, Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga mencatat bahwa dalam periode 29 Juni hingga 27 September 2015 sebanyak 44.871 orang terkena risiko asap. Dari jumlah itu, sebanyak 37.396 orang lainnya menderita ISPA, 656 orang terjangkit pneumonia, 1.702 orang terkena asma, 2.207 orang mengalami penyakit mata, dan penyakit kulit sebanyak 2.911 orang.

APRIL Group yang memiliki basis operasi di Riau merasa prihatin dengan masalah kebakaran lahan dan hutan. Mereka berusaha keras untuk ikut mengatasi bencana kebakaran yang sangat merugikan tersebut.

APRIL akhirnya meluncurkan sebuah program inovatif dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan. Mereka menamainya sebagai Program Desa Bebas Api. Kegiatan ini diharapkan oleh APRIL Indonesia mampu mendorong masyarakat bertransformasi menjadi Masyarakat Tangguh Api.

Program Desa Bebas Api pantas disebut sebagai terobosan baru dalam penanganan kebakaran hutan karena sudut pandang kegiatannya. Kegiatan yang digagas oleh Grup APRIL ini bersifat antisipatif. APRIL Group menekankan terhadap upaya pencegahan agar kebakaran tidak terjadi.

Perspektif dalam Program Desa Bebas Api yang digagas oleh APRIL Asia berbeda dari yang biasa dilakukan kebanyakan pihak. Sebelumnya penanganan kebakaran hutan dan lahan hanya bersifat reaktif. Semua upaya dilakukan hanya ketika bencana sudah terjadi seperti pemadaman, evakuasi korban, ataupun pencegahan supaya api tidak meluas.

Akan tetapi, Program Desa Bebas Api berbeda. APRIL Indonesia merancangnya supaya kebakaran tidak terjadi sehingga kerusakan lingkungan maupun dampak negatif yang mengiringi tidak dialami.

KOLABORASI DENGAN MASYARAKAT

 Mengenal Masyarakat Tangguh Api yang Diinisiasi APRIL

Image Source: APRIL

Sebagai kegiatan yang bersifat antisipatif, APRIL Group sadar bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri. Masyarakat harus digandeng dalam bentuk kegiatan kolaboratif. Ini penting supaya Masyarakat Tangguh Api yang diharapkan oleh APRIL bisa terwujud.

Patut disadari, dalam Program Desa Bebas Api terdapat tiga komponen terpisah. Namun ketiganya merupakan tahapan yang terhubung satu sama lain. Pertama adalah Masyarakat Sadar Api. Ini adalah fase pengenalan mengenai pencegahan kebakaran dan kesadaran akan bahaya kebakaran terhadap masyarakat.

Untuk melakukannya, APRIL Indonesia menargetkan para siswa di sekolah sebagai objek kegiatan. Pada 2016 lalu, APRIL Asia telah melakukan penyuluhan terhadap 50 sekolah. Sementara itu, pada 2017, mereka menargetkan untuk menambah jangkauan menjadi dua kali lipat. Nanti para siswa sekolah diharapkan menjadi “agen” yang menyebarkan kesadaran terhadap bahaya kebakaran hutan atau lahan beserta segala kerugiannya ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

Sementara itu, komponen kedua dalam Program Desa Bebas Api merupakan inti dari kegiatan itu sendiri. APRIL menyebutnya sebagai Desa Bebas Api. Di dalamnya berisi program komprehensif mengenai pencegahan kebakaran yang secara langsung bekerja sama dengan desa-desa terpilih selama lebih dua tahun.

Desa Bebas Api cukup unik. Dalam komponen ini, masyarakat benar-benar diajak langsung untuk menjaga wilayahnya dari bahaya kebakaran hutan. Sebagai “perangsang” partisipasi aktif masyarakat, APRIL Indonesia berinisiatif memberikan insentif kepada desa yang berhasil menjaga wilayahnya dari ancaman kebakaran selama setahun.

Insentif yang diberikan oleh APRIL berupa dana yang mencapai Rp100 juta untuk setiap desa. Nanti dana tersebut akan diberikan kepada desa yang berhasil mengamankan wilayahnya dari kebakaran dalam bentuk hibah proyek infrastruktur untuk kepentingan masyarakat.

Untuk menjaga kesuksesan program, APRIL menyerahkan penilaian kepada sekelompok juri independen yang terdiri dari sejumlah pejabat pemerintahan dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka pula nanti yang akan melakukan persetujuan terhadap proyek hibah infrastruktur yang diberikan sebagai insentif.

Direktur Royal Golden Eagle, grup induk APRIL Indonesia, Anderson Tanoto, menyebutkan bahwa insentif yang diberikan memiliki arti lebih dari sekadar hadiah. “Ini bukan hanya soal memberikan penghargaan, tapi juga kebesamaan para pihak melalui pendekatan bentang alam,” ucapnya seperti dikutip dari Tribun Pekanbaru.

 

DAMPAK POSITIF

Dampak Positif APRIL

Source: APRIL DIalog

APRIL Indonesia memulai merintis Desa Bebas Api pada 2014. Pada 2016, sebanyak 18 desa berpartisipasi dalam program dengan penambahan 50 desa di program Masyarakat Sadar Api sebagai pendahulunya. Secara total, program ini sudah mencakup kawasan seluas 600.000 hektare.

Pencapaian yang diraih cukup positif. Sebanyak 14 desa dari 18 desa yang berpartisipasi mampu meraih insentif karena bisa menjaga wilayahnya dari kebakaran. Ini berarti Desa Bebas Api hasil inisiatif APRIL berhasil mengamankan area seluas 619.580 hektare dari kebakaran.

Kesuksesan itu semakin menyemangati APRIL Indonesia untuk terus menggelar Program Desa Bebas Api. Selain bermanfaat penting dalam menjaga kelestarian hutan dan menjaganya dari ancaman kebakaran, masih ada misi lain yang diusung. APRIL ingin mengantar masyarakat bertransformasi menjadi Masyarakat Tangguh Api.

Ini adalah harapan besar yang diusung oleh APRIL Group. Masyarakat Tangguh Api merupakan masyarakat terlibat secara berkelanjutan dalam program Desa Bebas Api. Mereka akan mulai diarahkan ke sana ketika mampu sukses menjaga wilayahnya dari ancaman kebakaran selama dua tahun secara beruntun.

Pada 2017 tercatat ada sembilan desa yang mengarah ke fase Masyarakat Tangguh Api menjadi bagian dari Desa Bebas Api selama dua tahun terakhir. Menurut Rudi Fajar, Direktur PT. Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), unit operasional APRIL di Riau, transformasi menjadi Masyarakat Tangguh Api merupakan tanda kesuksesan kolaborasi dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran.

“Pencapaian hari ini dan perkembangan Desa Bebas Api memperlihatkan bagaimana program ini telah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Dukungan yang kuat dari masyarakat terkait bentang alam yang bebas api dan dalam hal membentuk akar yang kuat di masyarakat,” ucapnya.

Kesadaran masyarakat inilah yang merupakan aspek penting dalam menjaga hutan dan lahan dari ancaman bahaya kebakaran. Memilikinya berarti masyarakat akan mengamankan lingkungannya dari api secara aktif tanpa perlu didorong. Ini lebih berguna dalam jangka panjang. Sebab, kelestarian hutan dan lahan di Indonesia akan terus terjaga seperti yang diidamkan oleh APRIL Indonesia.