Lain Lain

Peran Sukanto Tanoto dalam Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

tani

Source: Tanoto Foundation

 

Pengusaha Sukanto Tanoto dikenal peduli terhadap berbagai masalah sosial. Salah satu yang diperhatikannya adalah pemberdayaan perempuan. Ia melakukan banyak hal bersama Tanoto Foundation untuk mengembangkan kemampuan para wanita.

Lahir pada 25 Desember 1949, Sukanto Tanoto merupakan pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE). Perusahaannya itu bergerak dalam bidang pemanfaatan sumber daya. Mereka sudah menjadi korporasi skala internasional dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan mencapai 60 ribu orang. Unit bisnisnya pun tidak hanya ada di Indonesia, tapi sudah tersebar hingga Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Spanyol.

Di sela-sela kesibukannya, Sukanto Tanoto masih meluangkan waktu untuk kegiatan sosial. Ia melakukan aktivitas filantropi bersama Tanoto Foundation yang didirikannya sejak 2001.

Namun, sebelum itu pun, pria kelahiran Belawan ini sudah menjalankan kegiatan sosial. Ia mulai melakukannya sejak 1981 bersama sang istri, Tinah Bingei Tanoto, dengan mendirikan sekolah di Besitang, Sumatra Utara.

Sejak saat itu, mereka aktif melakukan kegiatan sosial. Bersama Tanoto Foundation, aktivitasnya makin intensif. Namun, ada tiga kegiatan utama yang dijalankannya, yakni pendidikan, peningkatan kualitas hidup, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam memberdayakan masyarakat, perempuan menjadi salah satu sasaran. Sebab, jika diberi kesempatan, para wanita sebenarnya punya peran penting dalam menggerakkan perekonomian.

Hal tersebut terungkap dalam hasil studi Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2012. Mereka menemukan fakta bahwa ketika perempuan bekerja maka ekonomi akan tumbuh. Namun, sayang sekali banyak halangan yang membuat wanita sulit mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut mulai dari keterampilan minim, kesempatan yang kecil, hingga tantangan saat harus bekerja di luar rumah.

Berbagai kondisi tersebut membuat Tanoto Foundation secara khusus hendak membantu memberdayakan perempuan. Mereka akhirnya menjalankan berbagai program untuk membekali para wanita dalam menghadapi tantangan tersebut.

Terkait keterampilan, Tanoto Foundation membantu para wanita di kawasan pedesaan Riau, Jambi, dan Sumatra Utara untuk belajar membatik. Mereka memfasilitasinya mulai dari mendatangkan para pengajar. Selain itu, yayasan yang digagas Sukanto Tanoto ini juga mau memberangkatkan para peserta program pelatihan untuk belajar langsung ke pusat-pusat batik seperti Surakarta, Yogyakarta, dan Pekalongan.

Tanoto Foundation juga membantu para peserta program pelatihan batik untuk berkumpul di dalam satu wadah. Mereka pun mendirikan Rumah Batik Andalan di Pangkalan Kerinci, Riau. Di sana para peserta berlatih hingga akhirnya mampu memproduksi batik sendiri. Bahkan, mereka sanggup membuat motif sendiri dan menjualnya ke pasaran.

Salah satu pesertanya, Yusfaini, merasakan dampak positif dari program tersebut. Ia akhirnya mampu membuat batik. Ini merupakan hal penting baginya.

Sebagai istri seorang petani kelapa sawit, Yusfaini ingin membantu memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, sebelumnya ia tidak tahu harus menjalankan pekerjaan apa. Kini, hal tersebut telah berubah.

“Dari tidak bisa apa-apa, kini saya mampu membatik berkat pelatihan dari Tanoto Foundation. Saya juga dibantu untuk memasarkan produk batik saya. Hasilnya cukup untuk menambah penghasilan keluarga,” tutur Yusfaini.

Yusfaini hanya satu contoh. Banyak perempuan lain yang merasakan dukungan serupa baik secara tidak langsung. Sebagai contoh, salah satu program pemberdayaan yang dijalankan Tanoto Foundation ialah pelatihan wirausaha. Hal ini berjalan dengan dukungan unit-unit bisnis dari RGE. Akhirnya banyak pihak yang memperoleh manfaatnya karena mampu berwirausaha.

Sampai kini, Tanoto Foundation telah menyediakan pelatihan manajemen bisnis kepada 215 pengusaha kecil dan melatih keterampilan usaha bagi 144 orang. Bekerja sama dengan unit-unit bisnis dari RGE, mereka juga telah menciptakan 3.200 lapangan kerja bagi masyarakat di wilayah Sumatra Utara, Jambi, dan Riau.

DUKUNGAN UNTUK BEKERJA

 dukungan

Source: Aprilasia.com

Selain minim keterampilan, para wanita juga sulit mengeluarkan potensi secara maksimal karena kondisi keluarga. Mereka harus mengurusi anak dan rumah tangga. Akibatnya, mereka mau tak mau harus tinggal di dalam rumah.

Padahal, seringkali keluarga mengizinkan untuk bekerja. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan, terpaksa para perempuan tersebut hanya beraktivitas di dalam rumah dan kurang produktif.

Menyadari kondisi tersebut, atas arahan Tinah Bingei Tanoto, Tanoto Foundation berusaha mengatasi kesulitan yang dirasakan para perempuan tersebut.

Di sekitar area operasional perusahaan di Jambi, Riau, dan Sumatra Utara, Tanoto Foundation membangun fasilitas dukungan perawatan dan pendidikan anak. Contohnya adalah pusat penitipan dan lembaga pendidikan seperti PAUD, TK, dan sekolah.

Ini sengaja dilakukan supaya memberi kesempatan kepada para istri karyawan RGE untuk beraktivitas di luar rumah. Tentu saja kegiatan yang dilakukan bersifat produktif seperti bekerja.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari unit bisnis dari RGE. Mereka membuka peluang kerja bagi para wanita tersebut. Sampai kini, tercatat ada 2.000 perempuan menghasilkan pendapatan dengan bekerja di perkebunan perusahaan Sukanto Tanoto tersebut.

Sementara itu, bagi mereka yang masih ingin tinggal di rumah, Tanoto Foundation menjalankan kegiatan lain yang bermanfaat. Mereka menjalankan pelatihan keterampilan seperti pengasuhan dan manajemen rumah tangga dan mengajak para ibu untuk aktif dalam proses belajar mengajar anak-anak mereka di kelas. Bukan hanya itu, Tanoto Foundation juga mendorong keterlibatan para wanita dalam berbagai kegiatan sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Sedangkan bagi para wanita yang bekerja di RGE, Sukanto Tanoto tidak membedakannya dengan para pria. Mereka diberi kesempatan yang sama. Alhasil, tidak aneh banyak perempuan di unit bisnis RGE yang bekerja di berbagai profesi yang identik dengan kaum pria.

Sebagai contoh adalah Itsna Lathifa yang bekerja sebagai Acting Process & Pulp Product QA Area Head di PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP). Di sana, ia bekerja untuk memastikan proses produksi berjalan baik supaya menghasilkan produk berkualitas.

Itsna menjadi contoh dukungan yang diberikan perusahaan Sukanto Tanoto kepada para karyawan perempuannya. Ia mengawali karier dari bawah di Technical Department. Namun, Itsna mampu meniti karier berkat dukungan perusahaan dan kemampuan menghadapi tantangan.

Banyak tantangan yang dihadapi Itsna. Misalnya keluarga pernah keberatan dengan sistem shift di pekerjaannya. Ini mengharuskannya bekerja pada malam hari. Namun, Itsna bisa meyakinkan keluarganya bahwa keamanannya terjamin. Pasalnya, APRIL telah menata segalanya secara profesional.

Kegigihan membuat Itsna berkembang. Hingga akhirnya ia diberi beasiswa untuk melanjutkan studi di jenjang Master di Asian Institut of Technology di jurusan Pulp and Paper Technology di Thailand. Itsna bahkan menjadi wanita pertama yang memperoleh dukungan tersebut.

Sepulang studi, Itsna mampu mempraktikkan ilmu yang diterima. Kariernya terus melesat hingga rapat dengan direksi biasa dilaluinya. “Bagi saya, ketika bisa meeting dengan para direktur dan pendapat saya didengar oleh mereka, itu merupakan hal yang sangat membanggakan. Bahkan saking bangga, saya pernah mengirimkan foto ketika saya rapat dengan para direktur ke Ibu saya, dan saya satu-satunya perempuan yang ada di sana,” kisah Itsna.

Itulah sejumlah langkah yang dijalankan Sukanto Tanoto melalui Tanoto Foundation dan perusahaan terkait pemberdayaan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *