Review

Kredibilitas Sangat Krusial Bagi Sukanto Tanoto

Sukanto

Source: RGE

Pernah mendengar peribahasa ‘jatuh nila setitik rusak susu sebelanga’ yang berarti bahwa ketika ada satu hal kecil yang negatif, sekian banyak hal baik bisa tidak dilihat sama sekali. Oleh karena itu, bagi pengusaha sebesar Sukanto Tanoto, kredibilitas memiliki nilai penting.

Sukanto Tanoto bahkan tidak main-main dalam menjaga nama baik. Sekali rusak, kredibilitas akan hancur, hal mana akan berdampak pada bisnis. Pasalnya, sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan baru bisa tercapai ketika dua pihak atau lebih saling percaya.

Ini pula yang membuat Sukanto Tanoto melejit menjadi pengusaha andal. Ia sanggup membesarkan Royal Golden Eagle dari nol hingga menjadi korporasi kelas dunia. Lihatlah asetnya yang kini mencapai 18 miliar dollar Amerika Serikat dan jumlah karyawan yang dipekerjakan mencapai 60 ribu lebih. Semua itu membuktikan status Royal Golden Eagle sebagai perusahaan terpandang.

Dalam dunia bisnis, kepercayaan memang berarti penting. Memiliki kredibilitas tinggi merupakan kewajiban yang harus diwujudkan oleh seorang pebisnis. Tanpa itu semua, sehebat apa pun trik-trik bisnis yang dimilikinya, pengusaha tidak akan mampu berhasil.

Seorang investor kelas atas, Warren Buffett, juga menekankan kredibilitas sebagai hal krusial seperti Sukanto Tanoto. Pria asal Amerika Serikat yang ditempatkan oleh Forbes sebagai orang terkaya kedua di Amerika Serikat per Maret 2017 ini sangat menjaga kepercayaan dari berbagai pihak.

Sebagai Chief Executive Officer Berkshire Hathaway, Buffett memiliki lebih dari 60 perusahaan. Beberapa di antaranya termasuk institusi bisnis ternama seperti Geico, Duracell, dan Dairy Queen. Kekayaan pria yang dijuluki sebagai Oracle of Omaha ini ditaksir oleh Forbes mencapai 75,6 dollar Amerika Serikat.

Dalam menggapai kesuksesan seperti itu, kredibilitas merupakan kunci utama. Kata Buffett, “Butuh 20 tahun untuk membangun reputasi dan cuma perlu lima menit untuk menghancurkannya. Jika Anda tahu hal itu, berbagai tindakan yang Anda lakukan akan berbeda.”

Buffett bermaksud menyatakan bahwa orang akan berhati-hati dalam bersikap ketika sadar kredibilitas sulit sekali dibentuk. Pengusaha akan berpikir panjang dan memegang janji dan ucapan supaya reputasinya tetap terjaga.

Ini pula yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto sepanjang karier. Ia berusaha mempertahankan kredibilitas dengan menjaga komitmen dengan partner usaha. Selain itu, hubungan apik dengan pemerintah ikut pula dirawat. Bahkan, jalinan relasi dengan karyawan tidak dilupakannya. Ia selalu berupaya memberi contoh sebelum meminta bawahannya melakukan.

Bukti simpel adalah kerja keras. Sukanto Tanoto selalu mau terjun langsung ke dalam operasi Royal Golden Eagle meski sudah berstatus sebagai Chairman. Baginya, mengetahui problem yang sedang terjadi agar dapat mengambil putusan tepat adalah hal yang penting.  Selain itu, pemimpin yang baik adalah sosok yang sanggup memberi teladan dan bukti, bukan sekadar janji belaka atau hanya memerintah.

MENJAGA KOMITMEN KETIKA KRISIS

Salah satu bukti lainnya adalah komitmennya untuk tetap membayar utang saat krisis keuangan menerpa Indonesia pada 1997. Padahal, pada 1996, satu perusahaan yang menjadi bagian grup Royal Golden Eagle baru saja didaftarkannya di Bursa Efek New York. Hasilnya adalah peningkatan dana menjadi 700 juta dollar Amerika. Bukan hanya itu, grup itu pun menerima pinjaman dari sebuah bank sebesar 1,3 miliar dollar Amerika Serikat.

Akan tetapi, siapa sangka, di tengah peluncuran rencana ekspansi tahap pertama, sebuah krisis keuangan Asia terjadi. Nilai rupiah terdevaluasi dengan signifikan dibanding dollar Amerika Serikat.

Krisis tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan di Indonesia. Lembaga-lembaga keuangan global ikut terkena imbas. Akibatnya, perusahaan Sukanto Tanoto tidak bisa menerima kredit yang dijanjikan.

Padahal, arus modal bagaikan darah dalam perusahaan. Tanpa semua itu, kinerja perusahaan tidak dapat dilakukan. Akibatnya fatal. Mesin-mesin baru tidak dikirim, sedangkan mesin yang tiba tidak dapat dipasang.

Bersamaan dengan itu, ahli-ahli asing pun meninggalkan grup, dan kelompok usaha ini sampai pada satu titik ketika mereka bahkan tidak mampu mempekerjakan pekerja biasa. Harga saham perusahaan jatuh dari 6 dolar Amerika menjadi 10 sen dollar Amerika. Semua indikasi mengisyaratkan bahwa grup ini sulit untuk bertahan.

Hal serupa sebenarnya juga dialami oleh berbagai perusahaan di Indonesia. Banyak yang kolaps dan terpaksa memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya. Ancaman serupa membayangi Royal Golden Eagle.

Semua masih diperparah dengan nilai utang yang membengkak akibat penurunan nilai rupiah. Tercatat Sukanto Tanoto berutang 1,4 miliar dollar Amerika Serikat dan itu harus segera dibayar.

Dalam kondisi tidak pasti seperti itu, Sukanto Tanoto berpikir tenang. Ia mencari solusi dengan kepala dingin. Ia berusaha untuk menyelesaikan semuanya dengan baik supaya kredibilitasnya sebagai pengusaha terjaga.

Akhirnya solusi pahit diambil. Ia menjual asetnya di Tiongkok. Padahal, ia sangat berharap besar terhadap aset tersebut. Dananya akhirnya ia pakai untuk membayar utang demi menjaga kepercayaan pihak lain terhadapnya.

“Salah satu prinsip bisnis saya adalah bahwa saya akan melunasi semua utang saya karena kredibilitas sangat penting. Keputusan pertama saya adalah menjual pabrik di Changshu, Tiongkok untuk memperoleh uang tunai, yang merupakan sebuah keputusan yang sulit dan menyakitkan,” ucap Sukanto Tanoto.

MENJAGA KEPERCAYAAN KARYAWAN

Selain kepada pihak eksternal, Sukanto Tanoto juga berusaha menjaga reputasi kepada para karyawannya. Di tengah badai pemutusan hubungan kerja yang melanda Indonesia, Sukanto Tanoto malah melakukan langkah janggal. Ia melakukan ekspansi ketika krisis terjadi.

Prinsip yang diambil Sukanto Tanoto sederhana. Ia yakin seberapa parah badai yang tengah berlangsung, suatu saat pasti akan reda. Oleh karena itu, sebagian dana hasil penjualan aset di Tiongkok dijadikannya modal untuk membuat pabrik baru.

“Saya menggunakan uang tunai untuk membangun pabrik di Kerinci sehingga begitu pabrik mulai berproduksi, akan ada hasil untuk membayar utang,” ujar Sukanto Tanoto.

Sukanto Tanoto rela melakukannya supaya kepercayaan para karyawannya tetap besar. Ia sadar semua berharap dan menggantungkan hidup kepadanya. Maka, ia pun tak mau menyi-nyiakan semuanya. Sebisa mungkin ia membantu para karyawannya agar tidak berhenti dipekerjakan.

Bukan hanya itu, dalam kondisi krisis, ia malah meminta perusahannya untuk semakin memperbanyak kegiatan corporate social responsibility. Hal itu dilakukan Sukanto Tanoto karena tahu bahwa banyak pihak yang kesulitan menyambung hidup ketika krisis moneter terjadi.

Krisis mengerikan itu tidak hanya mengajarinya untuk mengambil keputusan berat. Bersamaan dengan itu, Sukanto Tanoto juga melakukan langkah janggal yang lain. Alih-alih hanya berupaya mempertahankan bisnis tetap eksis, ia justru berusaha keras membantu masyarakat yang juga terpukul akibat krisis moneter.

Salah satu contohnya adalah langkah perusahaan Sukanto Tanoto dalam mendirikan komite pertumbuhan komunitas dan memulai program Sistem Pertanian Terpadu, yang kini sukses meningkatkan taraf hidup orang banyak.

“Kalian harus terus memerhatikan masyarakat sekitar, tidak hanya para karyawan, tapi juga komunitas,” demikian pesan Sukanto Tanoto terhadap pengelola perusahannya. “Hal ini tidak terbatas pada mendidik masyarakat dengan membangun sekolah. Masyarakat harus makan, mereka harus bertahan hidup. Jadi ketika pemerintah tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, para pengusaha harus masuk untuk segera memenuhi kebutuhan tersebut.”

Kebesaran hati dan kerelaaan untuk melakukan langkah pahit demi menjaga reputasi tidak mudah dilakukan. Namun, Sukanto Tanoto berhasil melakukannya. Tak heran, kini ia berdiri di jajaran atas pengusaha terbaik di Indonesia dan dunia.

Sumber: http://www.aprilasia.com/en/sukanto-tanoto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *