Lain Lain

Jejak 30 Tahun Kerja sama Royal Golden Eagle Dengan Petani Kelapa Sawit

Petani Kelapa SawitSource: Inside RGE

Tahun 2017 menjadi momen penting bagi Royal Golden Eagle (RGE) terkait petani kelapa sawit. Saat itulah masa 30 tahun kerja sama di antara keduanya terjadi. Jejaknya sedemikian panjang dan masih dapat ditelusuri hingga sekarang.

Royal Golden Eagle merupakan korporasi berbasis pemanfaatan sumber daya alam kelas internasional. Mereka didirikan pada 1973 oleh pengusaha Sukanto Tanoto dengan nama awal Raja Garuda Mas.

Mulanya dengan bendera Raja Garuda Mas, RGE memproduksi kayu lapis saja. Namun, seiring waktu, mereka terus berkembang dan memperluas cakupan industri. Salah satu bidang yang diterjuninya adalah kelapa sawit. Dalam sektor ini, RGE memiliki Asian Agri yang berdiri sejak 1979.

Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini mendirikan perkebunan pertamanya pada 1983 di kawasan Gunung Melayu. Sesudahnya adalah kisah keberhasilan yang inspiratif. Asian Agri berkembang menjadi salah satu pemain besar dalam industri kelapa sawit di Asia. Kapasitas produksinya mencapai satu juta ton per tahun.

Kesuksesan itu tak lepas dari efektivitas Asian Agri dalam mengelola perkebunan untuk memastikan suplai bahan baku. Hingga kini, unit bisnis bagian RGE ini mengelola lahan seluas 160 ribu untuk ditanami kelapa sawit.

Akan tetapi, dari total luas lahan tersebut, tidak semuanya dikelola oleh Asian Agri. Mereka juga berbagi dan menjalin kemitraan dengan masyarakat. Lahan seluas 60 ribu hektare yang dikelola oleh para petani plasma.

Jejak kemitraan Asian Agri dengan para petani kelapa sawit sudah dimulai sejak lama. Mereka bahkan tercatat sebagai pelopor sistem kemitraan antara perusahaan besar dengan petani dalam industri kelapa sawit di Indonesia.

Semua dimulai pada tahun 1987. Kala itu, pada era 1980-an pemerintah Indonesia tengah gencar melaksanakan program transmigrasi. Masyarakat diajak untuk pindah ke luar Jawa untuk meraih kehidupan yang lebih baik serta memeratakan populasi. Sebagai bekal dukungan untuk mandiri, pemerintah sering menjalin kerja sama dengan pihak swasta.

Akhirnya antara tahun 1979 hingga 1984 terjadi perpindahan besar dari Pulau Jawa. Tak kurang dari dua juta orang meninggalkan pulau terpadat di Indonesia ini dalam program transmigrasi. Saat itu, pemerintah memberi dukungan kepada para transmigran dengan pemberian lahan seluas dua hektare sebagai “modal” untuk hidup.

Kebijakan itu disambut baik oleh Asian Agri. Ketika sistem plasma inti dalam industri kelapa sawit muncul, Asian Agri segera mengulurkan tangan untuk menjalankan. Jadilah pada 1987, Asian Agri menjalin hubungan dengan petani kelapa sawit sebagai petani plasma.

Dalam konsep plasma inti, perusahaan seperti Asian Agri bertindak sebagai inti. Mereka memberikan dukungan mulai dari infrastruktur yang memudahkan akses, pengetahuan tentang industri dan teknologi, hingga pendampingan pertanian kepada para petani. Tujuannya supaya pendapatan petani meningkat. Sementara itu petani plasma memberikan hasil perkebunan kepada perusahaan intinya dengan harga yang ditentukan secara adil oleh pemerintah.

Wujud nyata kemitraan antara Asian Agri dan petani kelapa sawit terlihat di lapangan. Anak perusahaan RGE ini menyiapkan lahan dan mendukung pengembangan perkebunan petani plasma selama empat tahun. Kala itu, panen pertama kelapa sawit bisa dilakukan. Saat itulah Asian Agri menyerahkan pengelolaan lahan kepada petani plasmanya.

Pola kemitraan yang dijalankan oleh Asian Agri ini berjalan sukses. Banyak sekali penghargaan terkait program PIR-Trans (Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi) oleh anak perusahaan Royal Golden Eagle ini.

Kunci keberhasilannya adalah komitmen konkret Asian Agri terhadap perkembangan petani plasma. Mereka tidak menjadikan dukungan kepada petani sebagai aksi seremonial. Unit bisnis grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini malah menjadikannya sebagai model bisnis dan bagian dari rantai pasok.

“Kemitraan bagi perusahaan bukan sebatas program Corporate Social Responsibility, tetapi menjadi bagian dari supply chain kami,” ujar Managing Director Asian Agri, Kelvin Tio.

MELUAS KE PETANI SWADAYA

Kelapa SawitSource: Asian Agri

Saat ini, kerja sama antara Asian Agri dan petani plasma sudah mencapai 30 tahun dan jangkauannya sudah begitu luas. Program kemitraan ini sudah menjangkau sekitar 30 ribu keluarga yang mengelola lahan perkebunan seluas 60 ribu hektare.

Program ini bisa berhasil karena petani juga menikmati buahnya. Dukungan dari Asian Agri membuat produktivitas perkebunan mereka ikut meningkat. Sebagai gambaran, pendampingan intensif dari unit bisnis RGE ini mampu membuat perkebunan petani plasma menghasilkan 18 sampai 22 ton tandan buah segar per hektare.

Kondisi itu membuat banyak petani lain terutama petani swadaya di luar plasma Asian Agri tergiur. Mereka ingin memperoleh dukungan serupa. Apalagi mereka tahu persis betapa besar komitmen anak perusahaan Royal Golden Eagle itu terhadap petani.

Bayangkan saja, Asian Agri membuat skema pendampingan dari awal pembukaan lahan sampai kepada penjualan buah kelapa sawit. Pada tahap pembukaan lahan, perusahaan membantu penyediaan akses benih, membangun kebun serta memfasilitasi para petani dengan pihak perbankan terkait pembiayaan. Setelah tanaman mulai menghasilkan, kebun diserahkan kepada para petani. Namun, bersamaan dengan itu, pendampingan petani terus berlanjut.

Di lain sisi, fakta memang memperlihatkan produkvitas perkebunan petani kelapa sawit kalah jauh dibanding perusahaan. Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan bisa dijadikan rujukan. Dalam Statistik Perkebunan Indonesia 2014-2016, dari total 1,4 juta hektare lahan kelapa sawit yang dikuasai petani, jumlah produksinya hanya mencapai 3,852,473 MT per tahun. Hal ini tidak berbeda jauh dengan perusahaan swasta. Dengan lahan yang lebih kecil seluas 900 ribu hektare, mereka mampu menghasilkan 3,591,262 MT per tahun.

Fakta itu menandakan bahwa petani memang butuh dukungan agar bisa produktif. Hal ini segera disikapi dengan cepat oleh Asian Agri. Anak perusahaan RGE ini membuat komitmen untuk memperluas jangkauan kemitraan ke petani swadaya.

Langkah itu sudah dimulai sejak 2012. Pada tahun tersebut, petani swadaya yang bermitra dengan Asian Agri mengelola lahan seluas 2.791 hektare di Riau dan Sumatera Utara. Pada 2013, luasnya bertambah menjadi 6.044 hektare dengan tambahan area di Jami.

Dari tahun ke tahun, luasnya terus bertambah. Sampai tahun 2016, Asian Agri telah menggandeng perkebunan petani swadaya seluas 24.500 hektare. Jumlah itu melonjak menjadi 30 ribu hektare pada 2017. Namun, pada 2018, anak perusahaan RGE ini menargetkan lahan kemitraan dengan petani swadaya sudah mencapai 40 ribu.

Hal itu dikarenakan Asian Agri mengincar target realisasi One to One Commitment. Ini adalah tekad untuk menyamakan luas perkebunan yang dikelola perusahaan dengan para petani.

Untuk mewujudkannya, kemitraan dengan petani swadaya dilakukan. Unit bisnis bagian dari grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini menduplikasi sistem plasma inti ke sana.

“Selama lebih dari 30 tahun terakhir, kami berpengalaman dan bekerjasama dengan baik bersama mitra plasma. Itu sebabnya, pengalaman ini dapat  dibawa ke petani swadaya,” kata Kelvin.

Terlihat nyata betapa panjang jejak kemitraan Asian Agri dengan para petani kelapa sawit. Mereka telah melakukannya selama lebih dari 30 tahun dan terus bertahan hingga kini. Sebagai bagian dari grup Royal Golden Eagle, hal ini merupakan perwujudan filosofi bisnis perusahaan agar memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.